1*Hati-hati, jaga hati #Fiktif

Aku hampir lupa, bagaimana, aku bisa memiliki rasa ini untuk mu. Aku hampir gila. Hampir setiap detik aku mengecek twittermu, melihat beranda facebookmu, menatap penuh harap layar YM-ku berharap kau menyapaku. Semakin ingin tahu apa saja yang tengah kamu lakukan. Banarkah aku mulai menyukaimu. Bagaimana ini bisa terjadi padaku. Apa yang harus aku jelaskan, semakin sesak, saat aku sadar, begitu BODOHnya aku kini. Saat-saat sperti ini, kau malah hilang. Kau hilang aku mencari, kau ada aku tenang. Bagaimana ini! Siapa yang yang harus bertanggung jawab atas rasaku ini.

Aku meratap sedih dihadapan Rabb-ku, mulai menangis, malu melihat diriku kini. Bagaimana ini bisa terjadi padaku. Haruskah aku menyerah.

“Aku tak ingin rasa ini, ambilah kembali ya Rabb….”

“Aku makin terlihat BODOH…”

“Bagaimana ini bisa terjadi padaku..”

“Tidak mungkin aku menyukainya…”

“TIDAK….”

“Rabb… jangan buat aku makin terjatuh”

“Aku tidak suka dengan ini…”

“Keadaan ini membuat aku membenci diriku sendiri…”

“Bawalah pergi rasa ini ya Rabb, bawalah pergi sejauh mungkin, jauhkan dari jangkauan hatiku..”

“Aku tak ingin memilikinya…”

.-_-.

—-

Aku menatap mayun layar laptop-ku, sudah lebih kurang 2 jam-an Aku meng-online-kan YM-ku, berharap kau pun begitu, ingin nge-chat bareng dengannya (astaghfirullah… hmm, sepertinya otakku benar-benar sudah error). Melihat beranda facebook-mu yang telah hampir 1 bulan ini tanpa postingan statusmu, twitter-mu pun begitu. “hmm… kemana dirimu”  kenapa sms-mu juga sudah jarang menyapaku. Apa harus aku yang sms duluan, ah.. mana mungkin aku yang sms duluan, kan malu (ternyata aku masih punya malu).

Ku matikan laptopku dengan tidak bersemangat. Akhirnya, aku beranjak dari tempat yang sudah mulai sepi ini. Berjalan gontai, ku lihat kampusku sudah benar-benar sepi, hanya beberapa mahasiswa saja yang ku lihat masih menunggu di halte bus.

“eh, ra… anti dari mana?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“ternyata anti nih belum pulang yah! Kirain tadi sudah pulang duluan, kok gak datang ke acara di mushola?” suara cempreng Mia yang begitu khas hanya ku balas dengan seulas senyum tipis.

“anti kenapa? Sakit? Atau lagi ada masalah, kok kayak gak semangat gitu… ” suaranya kembali menggema ditelingaku.

“nggak papa..” jawabku singkat. “mau pulang bareng gak?” ku lihat Mia menatap mataku dalam, seakan mencoba menerka apa yang sedang terjadi pada sahabatnya ini.

“anti habis ngenet di Dekanat ya?”

“iya..”

“Oooh… pasti anti chatingan bareng sama ikhwan bakw*n itu lagi ya…”

“ih, Mia apaan sih!” aku melotot ke Mia.

“ra, udahlah… gak usah dilayani lagi deh ikhwan bakw*n kayak gitu”

“Ya Allah… Mia, lagian siapa juga yang chatingan sama dia. Aku tuh ngenet buat cari bahan untuk nambahi revesi proposal yang kemarin, tiga hari lagi harus ngadep Bu Weni.”

“Aku tuh sama dia gak ada apa-apa, Mia. Beneran! Kami tuh cuma temenan doang. Lagian dia juga sudah lama gak sms-an lagi sama aku.”

“yowesss, baguslah kalo gitu. Ane cuma gak mau aja, kalo anti nanti jadi korbannya ikhwan-ikhwan bakw*n kayak begituan”

“Mia, dia itu gak seburuk yang kamu fikirkan. Kami masih saling menjaga kok.”

“ra sayang, yang namanya syaiton itu tugasnya yah ngegodain manusia. Paling demen yah ngegodain hati manusia yang sedang berkomunikasi antar lawan jenis tanpa ditemani muhrimnya.”

“tapi kan kami cuma komunikasi lewat chat atau sms, itu pun juga cuma obrolan biasa… seperti aku yang juga suka nge-chat sama kamu, Mia”

“yah, jelas beda dong ra sayaaang. Dia itu ikhwan, lah kalo anti mau chat sesama akhwat yah ane sih gak larang.”

“yah udahlah, terserah kamu saja, Mia”

Sebenarnya, aku sangat memahami sekali kekhawatiran Mia terhadapku, apalagi Mia tau betul dengan sifatku, dan sebenarnya apa yang dikhawatirkan Mia, inilah yang sedang terjadi padaku saat ini. Aku hanya mencoba untuk membohongi diriku sendiri. Maafkan aku Mia, tenanglah.. aku bisa mengatasi masalah hati ini sendiri.

—–

“ra, ane gak mau jika nanti, ane mendapatkan kabar buruk tentang anti dari orang lain. Apapun yang terjadi, anti harus tetap cerita sama ane.”

Begitulah pesan Mia, sewaktu beliau tau tentang keasikanku waktu itu dalam berkomunikasi dengannya melalui sms dan chat. Aku hanya tertawa melihat sikap Mia padaku saat ini yang begitu mengkhawatirkanku. Di kesempatan lain, bahkan Mia pernah bilang bahwa gak bakalan setuju kalau aku nikah dengannya, duh..Mia segitunya banget. Padahal, apa yang difikirkannya itu gak sejelek kenyataannya. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyum, walau kadang tak jarang pula kami sering bertengkar.

“anti tuh, harus bisa membedakan ra. Cara sms ke akhwat yah jelas beda dengan cara sms-an dengan ikhwan.”

“okelah, mungkin anti bisa menyakinkan diri anti kalo anti gak merasakan apa-apa, anti hanya mengganggap sebagai teman gak lebih, oke! Tapi, apa sama pemikirannya dengan anti. Apa sama tanggapannya dengan anti, bisa jadi dia sudah mikir yang macem-macem tentang anti.”

“hati-hati… dalam menjaga hati, karena syaiton itu punya banyak cara dalam menggoda manusia.”

Kalau sudah seperti itu, biasanya aku hanya dapat menghela nafas panjang, dan cukup meng-iya-kan saja apa yang telah di tausiyahkan Mia padaku.

Hingga akhirnya, apa yang ditakutkan Mia, benar terjadi padaku.

Kenapa aku merasa kehilangan…

Bodohnya aku ini ya Rabb, seharusnya jangan ku sentuh rasa ini. Kenapa tiba-tiba aku merindu. Kenapa tiba-tiba aku menangis takut kehilangan.

Bagaimana ini..

(bersambung….)

WellCome to Masalah :)

sad..

Masalah merupakan salah satu tanda kehidupan, karena ‘life is never flat’. Masalah akan membuat seorang manusia tampak gagah atau sebaliknya tampak kuyuh bagai jemuran basah yang diguyur hujan.

Berdamailah dengan masalahmu, tak mungkin Tuhan-mu memberikan masalah tanpa solusi. Seorang guru saja ketika membuat soal ujian untuk anak muridnya tentu tlah mempersiapkan kunci jawabannya, apalagi Tuhan🙂 dan tenanglah… Tuhan takkan menguji/memberi masalah diluar batas kemampuan kita.

“Dan sungguh Kami akan mencoba kamu dengan sesuatu dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpah musibah, mereka berkata ‘sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan Rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah:155-157)

Selalu ada harapan di tengah kesulitan. Selepas gelap malam tentu akan hadir pagi nan cerah. Awan mendung hujan merintik bukan sesuatu yang mesti ditakutkan, bukankah setelahnya akan ada sapaan indah sang pelangi.

Sering kali masalah menyapa hidup karena beginilah hidup. Satu demi satu persoalan hadir menyapa. Kadang kita mampu mengakhirinya dengan senyum puas, pada kesempatan lain kita hanya mampu mengakhirinya dengan tangis sendu semalaman. Duhai diri, beginilah hidup… inilah ‘seni’nya hidup. Ketika masalah hadir, ada baiknya kita menganggap itu adalah teguran dari Tuhan untuk kita agar kita senantiasa mengoreksi diri, memperbaiki diri selalu. Jika kita menganggap masalah yang kita temui merupakan ujian, takutnya ini hanya akan membuat kita menjadi ge-er dan jauh dari perbaikan diri.

Berikut beberapa cara ketika masalah hadir menyapa hidup:

  • Sambut dengan “senyum”🙂 maksudnya disini adalah mari sugestikan diri kita bahwa masalah adalah saatnya untuk pendewasaan, sugestikan bahwa tidak semua masalah adalah buruk dan sulit untuk diselesaikan. Ketika masalah datang, senyum—> bahagia—> tenang. Sehingga kita dapat berfikir jernih dalam menemukan solusi dari permasalahan kita.
  • Meyakini bahwa masalah itu datangnya dari Allah. Allah tidak akan membebani diri kita diluar batas kemampuan kita. Cek Qs.2:286. Positive thinking🙂
  • Yakin bahwa masalah sebagai cara proses kenaikan tingkatan/derajat keimanan. Jadi, masalah itu akan menjadi kunci untuk kita lulus atau tidaknya kita dalam kehidupan ini.
  • Bersabar dalam melewatinya. Katakan pada masalah, “masalah aku punya Allah yang Maha Besar yang akan membantuku”. Ingat Qs. Al-Insyirah:5-6, ‘bersama kesulitan ada kemudahan’.

🙂 Khidupan bukan kita yang punya, bukan kita yang mengendalikannya.  Ada Allah yang Maha berkehendak, maka memohonlah pada-Nya.

“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus…” 

wallahualam bishowab.

My prayers on the rain

hujanThe rain,

it’s about me asking for prayer

through the window condense.

started to open every piece of hope.

 

The rain,

is when I know jealous.

when the sky is gone, the clouds changed.

and the whispering wind you will going.

I’m stuck in the cold spots.

wet, you make my hope faded.

 

The rain,

when no longer able to hold my sore in the corner of my eye.

I embrace the rain, ran I hid behind a translucent curtain.

let me leave your name on the God.

 

“Too much to love you. The only way to attract your attention is to hate you.”

 

You like rain in the dry season.

waiting for you like an empty hope.

but,

there is always the possibility that tucked in between gusts of wind in her prayer.

in every time I looked at the sky.

 

The rain,

is when I ask you in prayer.

I leave my hope on patter thousands in attendance.

hope God let me see the rainbow with you.

-231112-